Suatu hari, seorang bocah kecil yang sedang bersantai di taman bersama ayahnya melihat penjual balon. Dengan penuh minat, si bocah menatap balon-balaon yang terikat di belakang sepeda itu. Dia merajuk dengan tatapan memelas, memohon sang ayah untuk membelikan sebuah balon untuknya. Sang ayah mengangguk.
"Apakah balon ini bisa terbang, Yah?"
"Buktikan saja".
Si bocah melepas dam melesatkan balon biru itu ke angkasa. "Apa yang membuat balon itu bisa terbang, Yah? Karena berwarna biru?" tanyanya dengan mata berbinar. Ayah tersenyum lalu membeli balon merah dan hijau. Dia lepas dan terbanglah dua balon itu menyusul balon biru.
"Jadi bukan karena warnanya, Yah? Mmm.... aku tahu ! Pasti karena yang ada didalamnya kan?"
Ayah lagi-lagi tersenyum. "Balon terbang karena ada isinya. Ada gas di dalamnya, yang membuat balon bisa menjulang. Kamu tahu, Nak, kita pun demikian. Kita bisa terbang, mencapai sukses, meraih prestasi, dan menggapai kebahagiaan. Bukan karena pakaian kita. Harta, kecantikan, dan pangkat hanya kemasan. Jangan malu bila tak berharta, jangan gundah bila fisik tidak menarik, jangan sedih bila tak berpangkat,. Kamu tahu, Nak, walaupun semua orang memperolok karena keterbatasanmu, jangan pernah mengempiskan isi yang dapat menerbangkanmu menuju angkasa raya..."
Si bocah mengangguk-angguk penuh minat. Ayah pun melanjtuka, "Nak, isilah balonmu dengan ketaqwaan, kepandaian, kebaikan, kebajikan, kerendahan hati, dan kepedulian terhadap sesama. Belajarlah dari kehidupan. Semua yang kamu lihat selalu meninggalkan pesan. Suatu hari... kamu akan tahu apa yang Ayah maksud..".
Bocah laki-laki itu menerawang. Senyum simpul menghiasi sudut bibirnya. "Aku tahu, Yah. Aku tak kan sibuk dengan penampilan. Aku akan mengisi balonku. Jika bocor, aku akan menambalnya dengan semangat juang. Aku tahu, Yah. Aku tahu maksudmu. Aku akan terbang... tinggi, tinggi sekali !"
#Dikutip dari sobekan kertas koran yang ditempel di binder teman#

Tidak ada komentar:
Posting Komentar